MY cabaret

Sabtu, 23 Januari 2010

LINK CEPAT SAJI :




Penelusuran Lanjutan
Alat Bahasa
Telusuri:

Google.co.id tersedia dalam: English Basa Jawa




Konser Wali Diawali Pagelaran Monolog Kabaret

Jumat, 06 November 2009 14:25 WIB

MAKASSAR--MI: Pementasan monolog kabaret bercerita tentang seorang wanita yang kebingungan mencari jodoh membuka penampilan grup musik Wali di Makassar.

Monolog kabaret yang ditampilkan oleh seorang wanita cantik pada pembukaan konser Wali Cari Jodoh, di Makassar, Jumat, hanya satu dari sekian kejutan yang muncul selama hampir dua jam konser berlangsung.

Grup musik beraliran pop manis ini sempat membuat terharu pengunjung saat sang vokalis mengajak salah seorang penggemar fanatiknya yang menyandang cacat tubuh bernyanyi di ujung panggung.

Meski penampilan fisik para personel band tampak acuh tak acuh danlagu-lagu yang dibawakan iramanya hampir serupa namun para penggemar grup musik yang melejit lewat lagu "Dik" ini tak berhenti bergoyang dan menyanyi di hadapan panggung.

Di antaranya penonton yang menunjukkan antusiasnya adalah sekelompok penari wanita yang sejak awal kompak menari dan bernyanyi bersama vokalis dan gitaris Wali.

Total 12 lagu yang ditampilkan grup musik ini pada penampilan keduanya di Makassar diantaranya, "Dik", "Baik-baik Ya Sayang" yang dipersembahkan untuk Indonesia, "Jodi" (Jomblo ditinggal mati) dan sebagai pamungkas "Cari Jodoh" sesuai dengan tema konser dan nama album mereka.

Satu konsep kreatif ditampilkan penyelenggara saat tembang "Cari Jodoh" dibawakan dua layar besar di sisi panggung menampilkan lirik lagu sehingga seluruh penonton bisa ikut bernyanyi. (Ant/OL-06)

Sent from my BlackBerry® powered by

Bookmark and Share

Berkostum Kabaret, Para Waria Ikut Berdemo di Monas



Jakarta - Memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia, massa yang berjumlah kurang lebih 300 orang melakukan aksi unjuk rasa di silang Monas. Para waria ikut memeriahkan aksi unjuk rasa tersebut.

Aksi berlangsung di Silang Monas, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (10/12/2009). Para waria mengenakan kostum ala kabaret plus hiasan kepala yang semarak dengan bulu-bulu ayam.

Tampak di antara mereka istri Munir, Suciwati dan Khoe Seng Seng. Massa sendiri di antaranya terdiri dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia, Arus Pelangi, Kontras, dan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia.

Dalam aksinya mereka membawa spanduk bertuliskan 'Kembalikan Mereka yang Hilang' dan 'Negara Harus Bertanggungjawab atas Perlindungan Terhadap Pembelaan HAM'. Sekitar 100 personel Kepolisian tampak masih berjaga di lokasi.

Hingga pukul 17.13 WIB massa membubarkan diri dari Istana menuju Bundaran Hotel Indonesia. (gus/nwk)

Jumat, 22 Januari 2010

Definisi Kabaret


Kabaret

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kabaret adalah sebuah pertunjukan atau pementasan seni yang berasal dari Dunia Barat di mana biasanya ada hiburan berupa musik, komedi dan seringkali sandiwara atau tari-tarian. Perbedaan utama antara kabaret dengan pertunjukan lainnya adalah tempat pertunjukannya— restoran atau kelab malam dengan sebuah panggung pertunjukan dan penontonnya yang duduk mengelilingi meja-meja (seringkali sambil makan atau minum) dan menyaksikan pertunjukannya. Tempatnya sendiri seringkali juga disebut "kabaret". Pada peralihan abad ke-20, terjadi perubahan besar dalam budaya kabaret. Para penarinya termasuk Josephine Baker dan penari waria Brasil João Francisco dos Santos (alias Madame Satã). Pertunjukan-pertunjukan kabaret dapat beraneka ragam dari satire politik hingga hiburan ringan, masing-masing diperkenalkan oleh seorang master of ceremonies (MC), atau pembawa acara.

Istilah "kabaret" berasal dari sebuah kata Perancis untuk ruangan bar atau café, tempat lahirnya bentuk hiburan ini, sebagai suatu bentuk yang lebih artistik daripada café-chantant. Kata ini berasal dari kata dalam bahasa Belanda Tengah cabret, melalui bahas Perancis Utara Kuno camberette, dari kata bahasa Latin Akhir camera. Pada intinya kata ini berarti "ruangan kecil."

Kabaret juga merujuk ke bordil gaya Mediterania — bar dengan meja-meja dan wanita-wanita yang berbaur serta mengibur para kliennya. Secara tradisional, tempat-tempat ini juga dapat menampilkan beberapa bentuk hiburan: seringkali dengan penyanyi dan penari — tergantung tempatnya masing-masing, sifatnya dapat liar dan kasar. Kabaret yang lebih canggih dan berkelaslah yang akhirnya melahirkan bentuk tempat hiburan dan seni pertunjukan yang menjadi pokok artikel ini.

Kabaret Perancis

Kabaret pertama dibuka pada 1881 di Montmartre, Paris; Rodolphe Salís' "cabaret artistique." Tak lama kemudian setelah tempat itu dibuka, namanya diganti menjadi Le Chat Noir (Kucing Hitam). Kabaret ini menjaditempat di mana para seniman kabaret pendatang baru dapat mencoba pertunjukan-pertunjukan mereka di depan teman-teman mereka sebelum dibawakan di depan penonton. Tempat ini mengalami sukses besar, dikunjungi oleh orang-orang penting pada masa itu, seperti Alphonse Allais, Jean Richepin, Aristide Bruant, dan orang-orang dari berbagai bidang kehidupan: kaum perempuan dari kelas atas, para wisatawan, bankir, dokter, wartawan, dll. Chat Noir adalah tempat di mana mereka dapat melupakan pekerjaan mereka. Pada 1887, kabaret ditutup karena situasi ekonomi yang buruk yang membuat pertunjukan-pertunjukan seperti ini menjadi vulgar.

Moulin Rouge, yang dibangun pada 1889 di daerah lampu merah Pigalle dekat Montmartre, terkenal karena adanya sebuah kincir angina tiruan yang besar dan merah di atapnya. Para artis terkenal di Moulin Rouge termasuk La Goulue, Yvette Guilbert, Jane Avril, Mistinguett, dan Le Pétomane. Henri de Toulouse-Lautrec membuat sejumlah lukisan dan adegan kehidupan malam di sana.

Folies-Bergère terus menarik sejumlah besar penonton hingga awal abad ke-20, meskipun tempat ini lebih mahal daripada kabaret-kabaret yang lainnya. Orang merasa nyaman berada di kabaret: mereka tidak perlu melepaskan topi, dapat mengobrol, makan dan merokok kapan saja mereka mau, dll. mereka tidak harus mengikuti aturan-aturan yang biasa berlaku di masyarakat.

Di Folies-Bergère, seperti di banyak cafés-concerts, ada banyak jenis pertunjukan: penyanyi, penari, pemain akrobat (juggler), badut, dan sensasi-sensasi seperti keluarga Birmane, yang semuanya berjanggut. Para penontonnya tertarik oleh bahaya pertunjukan-pertunjukan sirkus (kadang-kadang sang penjinak binatangnya dibunuh oleh singa-singa mereka), tetapi apa yang terjadi di panggung bukan hanya hiburan. Seringkali penonton mengamati sesamanya, jalan-jalan, menemui teman-teman atau pelacur. Pada awal abad ke-20, ketika perang hampir meletus, harga-harga melonjak dan kabaret menjadi tempat untuk orang-orang kaya.

Kabaret berbahasa Jerman

Dua puluh tahun kemudian, Ernst von Wolzogen mendirikan kabaret Jerman yang pertama, yang belakangan dikenal sebagai Buntes Theater (teater warna-warni). Namun segala bentuk kritik masyarakat dilarang oleh sensor terhadap teater di Kekaisaran Jerman. Sensor ini dihapuskan pada akhir Perang Dunia I, yang memungkinkan para seniman kabaret membahas tema-tema social dan perkembangan-perkembangan politik pada waktu itu. Ini berarti bahwa kabaret Jerman baru benar-benar berkembang pada tahun 1920-an dan 1930-an, melahirkan segala jenis seniman kabaret yang baru, seperti misalnya Werner Finck di Katakombe, Karl Valentin di Wien-München, dan Cläre Waldorf. Sebagian dari teks-teks mereka ditulis oleh tokoh-tokoh sastra besar seperti misalnya Kurt Tucholsky, Erich Kästner, dan Klaus Mann.

Ketika Partai Nazi merebut kekuasaan pada 1933, mereka mulai menindas kritik intelektual ini. Kabaret di Jerman terpukul hiebat: Pada 1935 Werner Finck dipenjarakan sebentar dan dikirim ke sebuah kamp konsentrasi; pada akhir tahun itu Kurt Tucholsky bunuh diri; dan hampir semua seniman kabaret berbahasa Jerman melarikan diri ke Swiss, Perancis, Skandinavia, atau Amerika Serikat. Yang tersisa di Jerman adalah kabaret yang dikontrol pemerintah, di mana lelucon-lelucon disampaikan atau orang-orang didorong untuk tetap berpura-pura gembira.

Ketika perang berakhir, pasukan-pasukan pendudukan memastikan bahwa kabaret-kabaret menampilkan kengerian rezim Nazi. Tak lama sesudahnya, berbagai kabaret juga berurusan dengan pemerintah, Perang Dingin dan Wirtschaftswunder: Tol(l)leranten di Mainz, Kom(m)ödchen di Düsseldorf dan Münchner Lach- und Schießgesellschaft di Munich. Semuanya ini diikuti pada oleh kabaret televisi pada 1950-an.

Di Jerman Timur, kabaret negara yang pertama dibuka pada 1953, yaitu Die Distel di Berlin. Kabaret ini disensor dan tidak mengkritik negara (1954: Die Pfeffermühle di Leipzig).




Posts: 01



Offline



gak suka baju penari kabaret. jg kaya pake cd doang hehehe... Hmpfh
dancenya jg agak2 gmn gt. mungkin bnyk yg bilang sexy,tp buat gue bener2 kaya ntn jubilee show
masih mening baju baletnya,yg harganya katanya ampir semilyar itu
oya nick itu orang amrik. umurnya br 22 thn. katanya sih anak kuliahan biasa. kenal ma jolin wkt jolin lg di amrik
jangan sampe deh jolin pacaran ama dia. kemudaan bangeeet hehehe Grin